perception [about] face recognition February 17, 2011
Posted by Celine in iseng.trackback
Apa sih yang aneh? Mengenali wajah. Humm, tergelitiknya saya menulis tentang ini dimulai dari pengamatan lama… melihat kerja petugas pemeriksa karcis kereta KRL di Jakarta atau petugas karcis bus yang selalu penuh, siapapun mereka adalah kelompok petugas yang menurut saya membutuhkan daya ingat luar biasa. Butuh kecerdasan khusus sehingga mereka bisa mengingat siapa yang sudah bayar dan siapa yang belum. Hehe, karena hingga detik ini, belum pernah sekalipun saya mengalami ‘tidak diminta bayaran’ ataupun ‘diminta bayaran dua kali’ — cukup sekali membayar dan sang kondektur pun ingat. Wow…!
Face perception a.k.a face recognition adalah proses ‘mengenali wajah’ dimana otak dan pikiran berusaha menginterpretasi (memahami dan menafsirkan) wajah yang ada di hadapannya, terutama wajah manusia. Proporsi dan ekspresi wajah manusia dinilai penting untuk identifikasi awal mengenai kecenderungan emosional, kualitas kesehatan, ataupun beberapa informasi sosial. Namun walaupun belum ada bukti nyata mengenai keterampilan ‘pengenalan wajah’ ini, kita bisa melihat adanya kecenderungan bawaan lahir dari bayi untuk memperhatikan wajah orang-orang penting di sekitarnya. Awal pengalaman bayi terkait dengan perkembangan persepsi visual dan komunikasi pra-verbal, yang hingga saat ini baru terbuktikan dengan adanya aktivitas otak di area tertentu. Aktivitas ini semakin kompleks seiring dengan pertambahan usia si bayi. Berikutnya, bayi yang berkembang menjadi manusia dewasa ini menjadi terbiasa dengan [menilai] wajah dalam interaksi sosial, meski persepsi kompleks terhadap ekspresi wajah yang melibatkan beberapa area di otak sekaligus ini seringkali tidak tepat, karena hanya menilai berdasarkan pola wajah ‘umum’ yang biasa dihadapinya. Selain masalah generalisasi persepsi tersebut, adakalanya otak pun mengalami gangguan tertentu dalam memahami ‘bahasa’ wajah (orprosopagnosia).
Namun di samping semua itu, kesalahan terbesar dalam ‘face recognition‘ adalah berpikir mendapatkan informasi lengkap HANYA berdasarkan persepsi pribadi si pengamat saja. Sehingga seringkali informasi sosial yang didapat pun kacau-balau karena gaya hidup dan tingkat stressor yang beragam di tiap individu akan memberikan informasi wajah yang berbeda.
Teori yang pernah saya kenal mengenai pengenalan bentuk wajah ini terkait dengan persepsi dasar tentang informasi sensorik awal (bentuk hidung, bentuk mata, lebar dahi) yang khas untuk setiap personal, dimana informasi sensorik ini kemudian berkembang menjadi sinaps-sinaps cabang mengenai rincian data seseorang (termasuk usia, jenis kelamin, daya tarik, atau keterangan lain yang relevan bagi ybs), dan semuanya bekerja secara sinergis membentuk jalur memori tertentu (engram = dianetika).
Engram atau jalur memori yang baik tentu memiliki jalur dengan konduktivitas sinaps yang baik, sehingga struktur pengkodean menjadi lebih rapi. Representasinya adalah kemampuan alami untuk ‘mengingat’ dan ‘memproduksi’ nama seseorang ketika dihadapkan dengan wajah tertentu. Walaupun demikian, pada beberapa kasus -termasuk pada saya- yang terjadi justru kesulitan mengingat nama namun mengingat setiap detil wajah. Bagi saya, hal ini menunjukkan bahwa nama (tagging) mungkin merupakan proses terpisah dari memori informasi lainnya tentang orang di hadapan saya. Mungkin informasi sensorik yang saya punya kurang kuat sinyal listriknya untuk berkembang menjadi engram
Pencitraan otak melibatkan aktifnya lobus temporal otak di area gyrus fusiform & gyrus temporal inferior, area yang pun rusak serius ketika seseorang mengalami prosopagnosia. Berikutnya jika dikaitkan dengan neuroanatomi, area tersebut dialiri darah dari arteri otak besar (cerebrum) yang lateral dari kedua sisi pada pria dan non-lateral pada wanita. Selain itu, mekanisme lobus otak yang aktif pada saat mengenali wajah pada individu tikus jantan melibatkan dominansi otak kanan, sedangkan pada individu betina lebih melibatkan otak kiri. Meskipun perbedaan ini dikaitkan dengan perbedaan tingkat hormon seks dalam siklus menstruasi, namun rasanya beberapa catatan ini membuat ‘ingatan wajah’ menjadi terlalu materialis *mengerikan* :O
Sementara banyak sumber daya dari otak yang bisa kita gunakan untuk memahami wajah, mungkin sebaiknya kita mulai dengan satu pertanyaan jujur:
Apakah kita benar-benar mengusahakan untuk mengenali wajah seseorang secara spesifik dengan analogi khas, ataukah persepsi wajah yang kita punya hanya bagian dari keterampilan umum untuk membuat kategori diskriminasi (seperti membedakan antara binatang dengan tanaman).
Karena rupanya mengingat wajah yang istimewa dalam kombinasi proses tertentu baru akan memudahkan saya mengingatnya, jalur ekstrem (sangat mengerikan, sangat menyenangkan, sangat-sangat yang lain) memang memudahkan sinaptogenesis — sehingga saya belum menjadi ‘face recognizer‘ yang baik, maafkan
Bentuk ‘recognizer‘ spesifik yang paling unggul digunakan dalam data biometrik saat ini adalah iris mata, sistem pengenalan wajah dalam aplikasi komputer yang secara otomatis mengidentifikasi seseorang dengan membandingkan fitur wajah yang ada dengan database wajah yang dimiliki, mungkin karena komputer makanya memorinya baik. Walaupun demikian, karena area penyimpanan pada manusia berbeda — kemampuan mengenali wajah ini tidak berkorelasi dengan sinaptogenesis di cerebral korteks yang terkait dengan analisis atau kecerdasan intelegensia.
Hehe… wallahu’alam bish shawab. Agak lebay mungkin dengan tulisan saya kali ini. Tapi saya memiliki beberapa alasan terkait ini; dan satu hal yang paling utama tentu saja karena saya adalah tipikal orang yang agak sangat sulit mengingat wajah
Jakarta, 17 Februari 2011



wah, saya rasa, tulisan ini berhasil memanusiakan bahasa diktat kuliah
kamu termasuk tipikal org yang susah nginget wajah hehhe… klo saya tipikal orang yg susah inget nama :p
baguslah, kalau memang seperti itu
saya juga kadang ingat wajah ga ingat nama — ternyata ada satu bagian khusus di otak yan ‘spesial’ menjadi sisi pengenalan untuk tipikal (atau topografi?) muka…
IMHO ada film serial judulnya lie to me. film itu menggunakan micro expression ,http://en.wikipedia.org/wiki/Microexpression untuk mendeteksi kebohongan seseorang. micro expression ini sudah dikembangkan di luar sana.