Go Green: antara Amal Jariyah dan Lingkungan Hidup July 17, 2010
Posted by Celine in reminder.trackback
Lama tidak menulis, lama tidak menyentuh dunia blog hingga siang tadi ada sms masuk;
“Wahai anak Adam, Aku Ciptakan engkau untuk diri-Ku, maka janganlah engkau bermain-main. Aku telah menanggung rezekimu, maka janganlah engkau menyusahkan dirimu pontang-panting hanya untuk mencari rezeki. Wahai anak Adam, carilah Aku, niscaya engkau akan mendapatkan-Ku. Jika engkau sudah mendapatkan-Ku, niscaya engkau akan mendapatkan segala sesuatu. Namun jika Aku tidak engkau dapatkan, maka segala sesuatu tidak engkau dapatkan. Dan Aku lebih mencintaimu lebih dari segala sesuatu” [Hadist Qudsi].
Glek. Bulat sudah bola yang harus ku mainkan hari ini. Sms itu masuk ketika aku tidak pontang-panting, namun di wiken ini aku justru tengah menyibukan diri dengan hal selain-Nya. Hal (yang nampak) baik namun seringkali terlupakan merapikan niat. Lurus. Berkarya untuk siapa? Reminder semesta itu berdering dari seluruh pelosok semesta. Ah, masakah aku masih sulit mengerti?
Seminggu sebelumnya, di kesempatan lain, dering dari sisi lain semesta mengingatkanku:
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah seluruh amalannya, kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah (yang mengalir pahalanya), ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shaleh yang mendo’akan kebaikan baginya“. [HR. Muslim]
Buat seorang aku yang masih tertatih -tersaruk tuk bisa paham- untuk belajar membaca ayat-Nya, hadist yang diajarkan sejak kecil itu berbunyi seperti rumus mutlak. Amal mengalir = sedekah jariyah + ilmu bermanfaat + doa anak shaleh. Jika dan maka antara semesta amal dan himpunan bagian syarat yang tidak mudah. Mindset aku yang kaku. Hingga kemudian sepekan lalu, kajian di Bintaro sana tiba-tiba mengupas lapis makna berikutnya tentang Sedekah Jariyah.
“Sedekah Jariyah itu adalah sesuatu yang ditanam dengan kemanfaatan yang terus mengalir -sabbaha- dengan penghadapan wajah penuh harap akan-Nya. Tidak ada apapun selain-Nya. Bahkan jika kau makan buah, menyisihkan bijinya, dan menanamnya sembari berujar, “Tumbuhlah dan Jadilah, sehingga bermanfaat dalam Pengetahuan dan Kebaikan-Nya” – lalu kemudian seseorang di masa mendatang memetik manfaat dari apa yang kau tanam, menikmati buahnya – maka itupun adalah Sedekah Jariyah“.
Tidak berharap apapun selainnya. Ga banget deh kalo dibandingkan dengan tulisan ku sebelumnya: hati yang melonjak-lonjak. Hoho. Ikhlas. Bahkan meski cuma sekadar lempar biji kering cabe atau biji mangga ke kebun belakang rumah…
“Jika hari kiamat telah tegak – sedangkan pada tangan seseorang diantara kamu itu ada benih – jika dia mampu untuk menanamnya sebelum berlaku kiamat itu, maka tanamlah.” [HR. Ahmad]
Indah

Pohon yang unik. Kalau kita tengok di QS. (14) : 24-26…
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍأَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَلِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِالأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ
“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun”.
Brrr… Pohon ternyata bukan sekadar pohon. Pohon yang menopang. Pohon yang akarnya kuat. Pohon yang tegak. Pohon yang berbuah dan bermanfaat hingga menjadi Jariyah bagi semesta. Semoga kita bisa kayak pohon ya…
Ah sobat, mari kita menanam Pohon!
-Bekasi, 17 Juli 2010-
like this..banget.. Alhamdulillah..
haturnuhun..
*lg di bekasi toh..
*****
alhamdulillah…
apakabar di menado kak?
keep shining and qona’ah ukhti.. jzkumulloh…

*****
hatur nuhun, juragan,
semoga kebaikan dalam doanya dikabulkan juga untuk sahabat
*sugan teh saha*
berharap tumbuhnya pohon besar menjulang tinggi… kerinduan demi kerinduan…
melirik diri duh Gusti… benih itu tengah bertarung dengan ilalang dengan butiran pasir kering meluas, benih itu bertarung meratapi hujan yang terhalangi oleh waham kuat, aih, berat nian, membajak tanah penuh belukar,
Curahan-Mu tak terbataskan memang, syukur tak terhenti..
tapi Engkau saksikan juga, betapa serangga ‘prasangka’ yang senantiasa berhasil memenuhi tanah tersebut…
Rabbi, Rabbi, Engkaulah Sang Pembajak setia…
saksikan, sujud lemah diri,
saksikan, getir jeritan senantiasa… air kehidupan-Mu, air kehidupan-Mu…
dimanakah pohon diri…
dimanakah dedaunan lebat yang selama ini senantiasa dinanti…
dahan yang menjulang… akar yang kokoh…
Ya Rabb… 1000 kali surat al-ikhlash diri lantunkan, terasa terseok-seok…
sujud demi sujud hamba jalani tertatih-tatih..
dimalam diangkatnya amalan demi amalan,
sambil menanti sang urusan kembali hadir…
Rabb…
heningkan diri… heningkan diri….
……………
*****
mengheningkan cipta yang luar biasa…
hatur nuhun ya kang dani,
semoga Kebaikan-Nya senantiasa terlimpah untuk kang dani sekeluarga, amin
Setiap orang adalah pohon ya?
Kenapa disimbolkan dengan tumbuhan?
Kenapa bukan hewan atau benda lain?
Terimakasih celine tulisannya
******
mungkin karena tumbuhan adalah bentuk ‘hidup’ yang paling berpasrah,
menghasilkan buah dan diamnya cenderung tidak merugikan semestanya…
entahlah…
terima kasih juga, cahaya jiwa