jump to navigation

Belajar Menerima ~ Belajar Dewasa (?) May 9, 2010

Posted by Celine in iseng.
trackback

Kepenatan seringkali muncul ketika kita terlalu luang, pun ketika kita terlalu sibuk. Teringat pesan Pak Achmad Sjarmedi, dosenku yang baik (semoga beliau senantiasa dalam Penjagaan-Nya) tiga tahun lampau:

“Taukah Lin, hidup itu seringkali dihadapkan pada dua hal yang sama-sama memusingkan, yakni tidak punya pilihan dan terlalu banyak pilihan. Mungkin sebagian orang akan memandang yang ‘tidak punya pilihan’ itu lebih mudah karena sudah jelas tentang jalan apa yang akan dia tempuh. Sedangkan sebagian lainnya memandang sebaliknya bahwa yang ‘banyak pilihan’ itu tinggal menyesuaikan keinginan dengan pilihan. Padahal keduanya sama-sama sedang dalam proses belajar menyusun strategi hidup, yakni belajar menerima dan belajar menolak dengan baik”.

Hari itu, konteks yang beliau gunakan ketika menasihatiku adalah belajar menolak dengan baik, menolak tawaran dan kesempatan yang tidak sesuai dengan arah berjalanku yang seharusnya. “Sayangilah diri sendiri, ada hak-mu yang harus tersampaikan, tolaklah dengan baik, orang sunda memang harus diajari menolak ya…” Hehe, rasis ya Pak, tapi kutahu hari itu bapak bercanda toh… *ah, kangen rasanya mendengar ‘petuah-petuah ajaib’ beliau.

Waktu berlalu cepat. Hari ini ku berada pada kondisi rutinitas. Bulan yang sibuk, pekan yang sibuk, hari yang sibuk. Lelah yang tersublim dan menguap hilang ketika melihat binar bola mata yang bertanya dalam hausnya, bertanya, dan bertanya. Menyenangkan mulanya. Namun tetap saja, terlalu banyak , kadang membuat kita (atau tepatnya: aku) lalai dalam mengingat tujuan untuk apa aktivitasku hari ini. Rutinitas itu menyedot energiku, charging-ku kacau. Tanpa kusadar (atau sedang pura-pura tidak sadar). Ah…Wajar jika kemudian DIA mengingatkan dengan Cara-Nya. Tiba-tiba saja di bulan-pekan-hari yang sibuk ini sesuatu terjadi: Kabel Laptopku putus (!)

Haha… ironis memang. Charging-ku yang kacau diingatkan-Nya dengan laptop yang tidak bisa di-charging. Putus kabel Laptop. Jika ini terjadi pada hari-hari lain, mungkin ku tidak akan sepanik ini. Tapi ini terjadi jelang beberapa jam sebelum presentasiku. Semua bahan ku buat disitu. Semua materi. Pun tidak mungkin aku meninggalkan area ini karena terkait dengan aturan lingkungan etc. Saat tau kabelnya putus, rasanya aku mau pingsan… [buat yang terakhir ini adalah lebay Mode ON, hoho]

Laptopku adalah jenis yang tidak umum. Tidak ada yang sama dengan kawan-kawan di sini. Laptop tidak bisa menyala. Panik, ku telepon a Yorga. Beliau di Bandung karena pamit jelang berangkat ke luar pulau. Ku telepon Marham. Adik yang jarang pulang pada hari itu ternyata di Bandung juga. Akhirnya dalam bingung, ku telepon mama. Ah mama, sederhana dan mengena sekali apa yang beliau sampaikan,

“Ini adalah bagian dari fase hidupmu. Terima ya neng, milikilah hati yang kaya, yang menerima apa adanya. Selamat berjuang ya”.

Para sahabat pun mengingatkan hal yang sama. Dalam versi berbeda setelah 3 tahun berselang ku diingatkan tentang belajar menolak, hari ini ku diingatkan tentang belajar menerima.

Cerita siang ini ditutup dengan presentasi tanpa laptop, tapi malam harinya sudah bisa kembali gunakan laptop. Jika sahabat adalah perpanjangan tangan Tuhan di muka bumi, maka hari ini kulihat jelas buktinya. Kabel nan lucu yang berfungsi dibawakan-Nya lewat tangan para sahabat yang tulus. Semoga DIA yang Maha Baik senantiasa menerangi hati mereka. Tulisan ini kudedikasikan untuk mama, aa, ayang, plus semua orang-orang baik termasuk kang D, mas B, dan kak A yang sudah bersedia direpotkan di hari liburnya. Biar DIA yang Maha Baik yang sanggup berikan sebaik-baiknya balasan. Terima kasih ^^(v)

Advertisement

Comments»

1. estisadiyah - May 24, 2010

celine :) lama nian tak berkunjung padamu :)
sedikit menanggapi “?” pd judul di atas: sedikit banyak,jawabannya adalah iya..krn semakin bertambah usia bukan berarti lebih banyak hal yg bisa dipenuhi, tapi justru lebih banyak hal yg diterima apa adanya..

*****
yup.. makasih teh… kangen da ih! ;)

2. SantriGendeng - June 8, 2010

lam kenal,,,,
hidup memang bukan pilihan,
tapi memilih adalah bagian dari kehidupan,

apapun yg terjadi itu yg terbaik menurut -NYA, meski kadang terlalu pahit tuk kita jalani, tp jika semua kita hadapi dgn ketulusan, maka hikmah dan manfa,at menunggu di depan.

3. jang acil - June 20, 2010

neng celiiiiiinnneeeee. yang ini dalem dan inspiring. thanks for sharing :)

*****
eh si ujang ageung, damang? nuhun cil :D

4. vivi novianti - June 29, 2010

Precious experience. Thanks Celine has shared with us. I love you. Wish you all the best, Sist.

****
humm.. love you too, teteh cantik… take care ya di Borneo sana…

5. kokom - July 2, 2010

jarangadaorangbisamengambilhikmahdarimusibahyangkitalalui.salutbuatkmu
*****
alhamdulillah, teh kokom — btw tulisannya kayak kereta api, unik! :D

6. seorangayah - September 20, 2010

Nice posting…

Tukeran link yuuk?

*****
Hayuu…
*saya sudah foot print disana, Pak :)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.