bahagianya adalah bahagiaku May 6, 2010
Posted by Celine in iseng.trackback
Hari Rabu itu ku pulang lebih sore dari biasanya. Ketika azan Magrib berkumandang, ‘tugas’ku baru rampung. Artinya shalat Maghrib dulu dan kemudian pulang. Tiba-tiba dalam penatku, teringat ucapan tetehku satu-satunya beberapa hari lalu; “Bekerja itu harus bahagia, dek, kalau lelah ya gunakan fasilitas ternyaman dan rilekslah”, nasihat tetehku. Humm, nasihat yang tepat kugunakan sekarang, ok, kuputuskan gunakan Taksi.
Hari sudah sangat gelap begitu keluar tempat kerja. Agak menyesal tidak mengikuti nasihat temanku menelepon jasa pemesanan taksi sebelumnya, karena tidak seperti biasanya hari itu jalanan tampak sangat lengang. Gerimis rupanya. Bergegas ku ubah rencana menggunakan angkot saja hingga jalan besar mencari taksi di sana. Humm, gerimis membuat perjalanan dalam angkot yang kunaiki menjadi sangat indah, harum tanah dengan satu pasi jeruk perak menggantung di langit yang hitam. Ku suka suasananya. Guys, detik itu penatku menguap entah kemana
Sampai di jalanan besar, taksi yang kutunggu-tunggu pun tak kunjung datang. Menikmati perjalanan angkot sebelumnya, akhirnya ku gunakan angkot lagi, hehe… lumayan ngirit
Angkot yang kunaiki melewati pool taksi BB. Pesan orang rumah, gunakan taksi di perjalanan malam hari & sendiri. Waduh. *Ga mau turun!* ^_^(v) Insya Allah aman ko (ah, maafkan daku yg sotoy, mom, tp hari itu anakmu benar-benar andalkan feeling). Dua orang bapak separuh baya berambut putih dan seorang bapak usia 30-an naik, lengkap dengan seragam biru khas driver BB. Tuh kan…pembawa taksi pun tidak pulang pakai taksi (hehe).
Ku ga nguping, Swear! Tapi cerita dan tawa bariton mereka dengan logat jawa tengah yang kental memenuhi dinding angkot. Pembicaraan mereka seru sekali. Tentang bermacam-macam ‘varietas’ penumpang. Tentang kasus X atau tersangka buronan Y yang duduk di belakang bangku driver mereka dan mereka harus pura-pura tidak tahu berita apapun tentang X Y tersebut karena rahasia customer adalah nomor satu. Hingga kemudian alternatif jalur taksi. Menariknya, dalam pembicaraan jalur taksi inilah mereka membahas sesuatu tentang ‘bekerja dengan hati’…
A : “…saya tadi siang rencana mau bawa penumpang ‘sedikit main’ jalurnya dengan saya bawa dulu muter ke pondok indah, yaa, saya ga dosa toh dia bilang terserah bapak mau pakai jalur yang mana. Tapi ko rasanya hati ini ga sreg ya? Meski anak di rumah perlu susu, tapi ko rasanya hati saya ga mengizinkan…”
B : “ya jangan toh Pak, artinya hati kecil sedang bicara jujur, baguslah…”
A : “Sampeyan bisa bilang gitu karena sampeyan memang ustad, kalau saya solat aja masih bolong-bolong, hehe, lagian kan dia bilang terserah saya, dibawa keliling kemanapun ga apa-apa toh…cuma rasanya setelah saya akhirnya memilih jalur tercepat dan termurah untuk argo penumpang ‘terserah’ tadi, rasanya saya bahagia sekali. Tentang susu anak saya, pasti ada jalan keluarnya dah! Eh bener aja, karena sepanjang hari tadi saya ngerasa bahagia dan bawaannya pengen senyum mulu, sorenya saya dapat tip yang lumayan dari penumpang lain yang bilang kalau muka saya bersinar dan bahagia banget…”
C : “Haha, iya, persis seperti kejadian saya dua hari lalu. Meski saya bawa 5 mahasiswa yang memenuhi taksi dengan tas besar, dan cerewet karena merasa tahu jalur – takut ditipu – dan ga punya duit, tapi salah satunya sangat mirip adik saya di kampung. Saya jadinya baik-baikin tuh mereka berlima, meski mereka galak-galak semua. Akhirnya begitu turun salah seorang mahasiswa yang paling pendiam -yang ga mirip adik saya- kasih tip, sepuluh ribu doang sih, tapi yang bikin saya bahagia tuh santunnya ketika dia minta maaf atas kelakuan temen-temennya. Ah, orang baik emang selalu bikin adem ya..”
….
Pembicaraan mereka menyempurnakan hariku dengan jeruk perak yang masih menggantung. Penuhi saja negeri ini dengan orang-orang yang memiliki hati yang bening, maka bahagia adalah keniscayaan yang tidak terukur dari materi. Belajar tentang bentuk sederhana dari konsep Al Birr. Kebaktian tertinggi ketika bahagianya adalah bahagiaku, bentuk ‘nya’ yang merujuk pada siapapun yang menjadi semestaku. Terima kasih, bapak-bapak… Terima kasih
*dan sore itu ku pulang dengan teguran karena ‘nekad’ gunakan angkot, tapi ku ga menyesal, hehe….
Hmmm…..
“Pengalaman sejuk dan dingin setelah hujan menyejukkan dan mendinginkan bumi”
Indah…. ditemani satu pasi jeruk perak. ^_^
Senang baca tulisanmu Adik Baik
*****
Sama-sama kakak baik, kemane aje…?
Gimana kalau bahagianya adalah bahagiaku dan bahagiamu juga…hehehe…
Dan rencana-Nya, lebih indah dari rencana kita…
*****
setuju mba R! dan Allah akan sesuai dengan persangkaan hamba-NYA… DIA yang Maha Kreatif ^o^
CQ, mantap sharingnya..
Share di milis dong..
*****
ga berani, kang Yosep…
Cerita yang menarik dan menyentuh Mbak Celine. Banyak pelajaran bisa diambil dari kejadian kecil di sekitar kita. Seperti kisah yang dituturkan di atas.
*****
Alhamdulillah… mohon masukannya mas Noer, yang tulisannya jauh lebih baik. Sy masih belajar jalan. Trainer for Writer pun lakon utama kan ya mas