Indigo, antara Mistisme dan Fakta Ilmiah… [Part One] October 26, 2009
Posted by Celine in iseng.trackback
Sebagai pendahuluan, sebelumnya saya musti jelaskan, bahwa ketika kebanyakan orang menulis apa yang sedikit dia tahu, maka kali ini saya justru tidak paham dengan apa yang sedikit saya tuliskan. Saya menulis dalam rangka SAYA INGIN TAHU sehingga saya harus mengumpulkan paparan orang-orang tentang Indigo…
Ok, kita mulai dari definisi. Kamus Cambridge-online mendefinisikan bahwa “Indigo is (having) a bluish purple colour “–> mengacu pada kata sifat, Indigo disini didefinisikan sebagai berwarna ungu kebiruan [dan saya membayangkan warna luka lebam, hehe...]. Tampaknya kamus ini masih punya definisi lain, sayang tidak gratis. Definisi berikutnya, merriam-webster, “Indigo is a deep reddish blue” alias biru gelap kemerahan… Lalu dengan kamus bio-online, “Indigo is kind of deep blue, one of the seven prismatic colours”. Salah satu dari me-ji-ku-hi-bi-ni-u. Wah, bicara tentang Indigo dalam ketiga ’scientific-dictionary’ diatas tampak seperti bicarakan warna-warna lucu untuk membuat baju…
*******
Anak-anak Indigo, atau di tulisan ini akan saya singkat sebagai Indigo’ers, adalah istilah yang diberikan kepada anak dengan seperangkat atribut psikologis tipikal tertentu: sangat cerdas, punya talenta tertentu, kreatif, selalu bertanya ‘what & why’ untuk setiap hal, emosional, tidak sabar, non-conformist, mudah bosan dan ter-distraksi, abstrak, namun mampu fokus ber-jam jam terhadap hal yang dia minati. Mereka punya keinginan kuat, ‘sense of humor’ tinggi, dan imajinatif. Mudah frustasi dengan hal-hal yang ritual-oriented dan ini menjadi alasan mereka tak suka dengan institusi bernama sekolah. Walalupun demikian Indigo’ers umumnya tergolong anak yang istimewa (IQ >> 120 dengan rata-rata 140). Banyak sebutan untuk mereka, semisal “Children of the Sun” atau “Millennium Children”oleh beberapa orang yang mengaku ahli dari Amerika. Umumnya Indigo’ers tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak. Sampai ciri-ciri diatas, tidak ada hal yang aneh.
Kemudian ciri tersebut ditambah dengan seperangkat labelling bahwa Indigo’ers adalah ‘anak2 muda eksentrik’ yang membuat sekian perangkat aturan ketika berhadapan dengan mereka. Melalui diagnose psikiatrik mereka sering dikategorikan mengalami Attention Deficit with Hyperactivity Disorder (ADHD), Attention Deficit Disorder (ADD), Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) dan juga Autism. Walaupun sering dianggap anak ADD, Indigo’ers juga mudah bersikap empati dan iba terhadap orang lain, atau terlihat sangat dingin dan tak berperasaan. Mereka tidak terlalu peduli dengan seperangkat aturan yang diberikan orangtuanya, namun mereka tidak berani melanggar aturan yang mereka buat. Dasar pembuatan aturan mereka sendiri terkadang didasarkan pada kebenaran-kebenaran universal yang dipercaya penting untuk kebaikan umat manusia. Seringkali petuah-petuah bijaksana keluar bahkan dari mulut anak kecil yang belum cukup umur untuk masuk Sekolah Dasar…
Sorot mata, tutur kata, dan pemikirannya dapat seketika menjadi lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi.
Critical-points dari Indigo’ers ini adalah sense of self-definition mereka yang kuat, dan sebagian besar dari mereka bahkan menyatakan dirinya mengetahui untuk apa dia diciptakan… [wuh..subhanallah, mengetahui untuk apa ‘dia dicipta’ sejak dini..tapi betulkah?] Seringkali menjadi anti-sosial ketika dia tidak ditempatkan pada lingkungan sesamanya. Lazim terjadi depresi pada Indigo’ers yang menganggap belum mengetahui untuk apa dia diciptakan. Artinya dia membutuhkan ‘rekan satu frekuensi’ untuk memahami self-definition nya tersebut. Berjamaah!
Sangat membenci status-quo dalam struktur sosial, bahkan ritual agama dan konsep tradisional keluarga yang menurutnya non-reasonable. Indigo’ers terkadang, menurut beberapa sumber, bisa sangat electrically sensitive (objek listrik di sekitarnya terpengaruh oleh mood beberapa Indigo’ers ketika berada di sekitarnya), waah…saya langsung membayangkan bocah Noah dalam serial Heroes…
Doreen Virtue, Ph.D, seorang psikolog terkemuka di US Counseling Institute menyebutkan bahwa “Indigo Children represent a special breed of individuals who have come to our planet to bestow us with their gifts. they’re here to change our political, educational, nutritional, family and other systems. They’re also here to help all of us reach our potential by becoming more natural and more intuitive. They have a job to do, and they won’t let anyone stand in their way”.
Tidak semua pendapat diatas bisa saya telan bulat-bulat. Ada beberapa pendapat tentang Indigo’ers saya kategorikan masih masuk dalam ‘dunia abu-abu’ yang mungkin benar… but I really need evidences for some points. Misalnya klaim yang menyatakan bahwa Indigo’ers memiliki kemampuan metafisik, komunikasi ‘in soul-language’, kepekaan multidimensi, immunitas terhadap penyakit-penyakit semacam HIV, de el el..
Sehingga berbeda dengan mama Dorren, Russell Barkley, professor psikiatrik dari UK justru punya pendapat tersendiri mengenai Indigo’ers, “There’s no science behind it. There are no studies”. Barkley secara tegas sudah men-separasi-kan labeling Indigo dari dunia pengkajian secara ilmiah.
****
Istilah ‘bocah Indigo’ pada masa abad pertengahan digunakan untuk anak-anak yang dipercaya memilki kemampuan supranatural semisal membaca pikiran seseorang. Film ‘Blessing-Child’ tahun 1990-an [yang dulu saya lihat sebagai film horor] mungkin menceritakan sedikitnya tentang hal ini. Konsep Indigo dipublikasikan pertama kali pada tahun 1982 oleh Nancy Ann Tappe melalui “Understanding Your Life through Color”. Dalam bukunya ini Tappe menyatakan dirinya mampu melihat aura orang-orang di sekitarnya, dan banyak anak-anak yang terlahir dengan aura Indigo pada akhir 70-an. Masih menurut Tappe, diperkirakan pada saat ia menulis buku itu, 97% anak-anak di bawah 10 tahun dan 70% anak-anak usia 15-25 tahun adalah Indigo. Ide ‘nyentrik’ tentang Indigo ini kembali dipopulerkan pada tahun 1999 oleh duet Lee Carroll dan Jan Tober lewat buku “The Indigo Children: The New Kids Have Arrived”. Carroll punya konsep “Master angelic energy” atau Kryon sebagai akar dari energy supranatural.
Warna indigo, yang tadi di atas kita sebut sebagai warna baju, adalah warna yang dominan dari warna aura (warna biru-merah). Dalam pdf-book ’12-Chakra System’ , Indigo’ers terbuka pada cakra mata ketiga, pusat aktivitas dari energi fisik. Akibatnya Indigo’ers memahami perbedaan yang sangat tipis antara dunia kasat dan dunia spiritual, dan mereka memiliki kemampuan untuk mengakses informasi dari sini, yang kebanyakan orang tidak mampu. Dr. Tubagus Erwin menambahkan bahwa dalam perspektif ilmu yoga, Indigo’ers mengalami kekurangan cakra warna kuning di bagian ulu hatinya. Warna kuning dalam aura terkait dengan pergerakan manusia. Lantaran kekurangan warna kuning, anak indigo umumnya kurang bergerak atau sebaliknya terlalu aktif bergerak hingga sering diduga mengalami gangguan ADHD, ADD, dan sebagainya yang tadi dipaparkan diatas. Ketika sebagian kalangan medis menyatakan bahwa anak indigo mengalami kerusakan pada bagian otaknya, Dr. Erwin justru menegaskan bahwa indigo bukan penyakit. Bahkan menurutnya, WHO pun tidak mencantumkan indigo dalam international classification of diseases. “…tak perlu dilakukan terapi untuk menyembuhkan anak indigo, karena yang dibutuhkan disini adalah pembinaan untuk anak, orangtua, guru supaya mengerti cara menangani anak indigo,” papar Pak Erwin. Ditambahkannya bahwa saat ini Depdiknas pun tengah membuat panduan bagi guru reguler tentang bagaimana menghadapi Indigo’ers, yang juga berlaku bagi para guru home-schooling. “Penanganan yang benar adalah penting demi perkembangan anak,” lanjutnya ketika mengungkapkan soal adanya beberapa kasus anak indigo yang frustasi lantaran mereka gagal beradaptasi dengan lingkungan.
Indigo’ers yang lahir di tengah keluarga yang mengerti kondisinya justru akan banyak berguna buat orang lain. Seperti membantu menyembuhkan penyakit lewat tenaganya. Misal kisah Bagus Torsanto di Republika, yang mengobati seorang kawan ibunya yang diduga tengah didera masalah psikis. Inspirasi pengobatan selalu datang usai shalat. Tangan Bagus seolah bergerak sendiri memegang kepala teman ibunya itu. Sekonyong-konyong rasa nyeri dari kepala itupun hilang. Namun Indigo’ers juga harus bergerak melawan stigma publik. ”…untuk apa menjadi indigo jika kita cuma sekadar menjadi barang tontonan” kata Vincent Liong, salah satu Indigo’ers yang merasa terganggu. Sehingga tidaklah berlebihan jika Leonardo Rimba, pun yang mengaku pengamat Indigo’ers, mengatakan bahwa Indigo’ers seharusnya dibantu diadaptasikan, bukan dipisahkan, karena kemampuan batin adalah hal lumrah. Semua manusia memiliki kemampuan itu. Pelabelan indigo bisa menjadi beban dan bumerang buat untuk Indigo’ers. Jadi teringat pesan orang tua, jangan terlalu banyak memuji anak-anak, pun yang memang layak dipuji. Dalam hati saja, kasihan…
Any Comment, Please?
Mungkinkah Indigo’ers ada kaitannya dengan gelombang otak alpha α, beta β, etc… Atau pencitraan diri yang sejati, soul-language tadi adalah bentuk kemurnian… Ada yang bisa bantu?
Hatur nuhun sateuacana… thx before… I really need your sharing here…
******************
note dan beberapa komen informatif bisa d cek di sini
didukung oleh data-data yang diambil dari sini:
http://dictionary.cambridge.org/
http://www.merriam-webster.com/dictionary/indigo
http://www.biology-online.org/dictionary/Indigo
http://www.squidoo.com/Indigo
Indira, Republika, Januari 2008
www.starchild.co.za/what.html
khusus pembahasan mengenai cakra diambil dari:
http://www.ascendpress.org/PDF-files/Chakras5.pdf
ada artikel di blog gue membahas indigo children/adult:
http://www.rahasiaotak.com/10-kemampuan-tidak-umum-dan-aneh-orang-indigo/