jump to navigation

Keceriaan itu milik semua… February 17, 2009

Posted by Celine in iseng.
trackback

Bandung mendung. Sore itu ku pulang tepat ketika peak-hour dimana orang lain pun bergegas menuju rumahnya masing-masing. Jalanan macet. Wajar kalo penumpang dalam angkot yang kutumpangi kali ini pun hening sambil terkantuk-kantuk karena gerimis di luar angkot jadi simfoni tersendiri buat lagu nina bobo, hehe :D

Macetnya lumayan panjang. Putaran depan BTC, jalanan tergenang, volume kendaraan tinggi… Sesekali dari jalanan terdengar makian dan sumpah serapah dari para pengendara yang saling memberi ujian. Jujur, ku seringkali terganggu dengan ini. Risih. Humm… padahal seseorang pernah mengingatkanku untuk menaruh hal-hal seperti itu diluar Diri. Rupanya ku pun belum lulus ujian tuk mampu berlapang-lapang :)

Tiba di perempatan (sebenarnya perlimaan) daerah gerbang tol Pasteur, kendaraan dari semua arah stuck. Rupanya traffic-light padam. Wow, suara-suara itu terdengar lagi! Lebih keras, nyaring, kasar, bahkan para penumpang di angkot ini pun mulai terjaga dari kantuknya yang menguap lewat kehebohan itu. Polisi pun belum hadir. Asyik…ujianku di ulang lagiiiii :D :D :D

Seolah begitu saja, sudut mataku menangkap sesuatu yang lain. Di situ, di trotoar besar di muka jalan tol berdiri sekitar 15 anak-anak jalanan. (*gambar disini tampak aga kabur karena ketika take a photo ku terhalang jendela angkot). Komunitas ini seolah tak peduli dengan semua kehebohan yang terjadi, semua teriakan marah, ataupun gerimis yang turun…

dsc023171

Dengan menggunakan spanduk besar yang diikatkan pada 2 buah tiang listrik, mereka membuat ayunan besar. Kreatif. Sorak sorai bersahutan. Gembira. Tanpa sedikit pun kecemasan pulang jam berapa, bagaimana kalau ‘pihak penertiban’ datang, bagaimana kalau mereka jatuh, bagaimana kalau masuk angin…

dsc02318

Huff… Di bawah langit senja yang gerimis, mereka begitu indah…

Tak lama kemudian suara azan maghrib terdengar bersamaan dengan datangnya polisi lalu-lintas. Kendaraan-kendaraan di perempatan itu pun mulai melaju lagi. Seiring melajunya angkot ini, dari kejauhan masih kuperhatikan aktivitas keceriaan mereka yang tak berubah. Tawa mereka menembus suara hujan, mengendurkan sedikit ketegangan udara di sekitarnya. Mereka membagi keceriaan itu menjadi milik semua.

Rupanya pihak pemberi ujian kelapangan memberikan ku keringanan pada remedial alias pengulangan kali ini. Cukup dengan menggunakan sudut mata yang lain, kau akan melihat sisi keindahan itu. Yang membuatmu lapang. Yang membuatmu ‘melihat’ sesuatu…

Gunakan sudut mata lain. Dan mari kita shalat maghrib dulu.

Comments»

1. a - February 17, 2009

Karena keindahan ada di dalam hati. jika hatimu indah apapun yang kau lihat akan indah. seperti kisah Nabi Isa as saat berjalan dgn murid2nya melewati bangkai seekor keledai yg sudah membusuk, beliau berkata “alangkah bening mata keledai itu”

nice post. keep write sis!

2. cinug - February 17, 2009

Sudut mata lain yang mana ya?
Mata berbentuk elips dg rumus (x/a)^2 + (y/b)^2 = 1.
Di koordinat manakah sudut yang mau dipakai..?

Aku mengamati kalau hidup seperti fraktal.
Fraktal adalah suatu bentuk yang berulang-ulang ke dalam dan keluar.
Seperti itulah hidup, ada pesan yang sama terulang-ulang tersampaikan dalam setiap moment entah itu mikroskopik atau makroskopik

3. d - February 17, 2009

Anak-anak itu memang para pakar spiritual sejati. Mereka tidak menunggu sesuatu untuk bahagia, ketika mereka ingin bahagia maka mereka menciptakannya sendiri. Menciptakan kebahagiaan sejati dari dalam diri.

Dan mereka hidup “at the moment”, hidup di “saat ini”. Itulah mengapa mereka tidak peduli apakah akan hujan atau akan terjatuh, bagi mereka jika ingin bermain ya langsung bermain. Tidak perlu ada embel-embel dibelakangnya apakah akan sakit atau akan terjatuh.

Berangkat dari tulisan di atas aku jadi teringat perbedaan paradigma antara anak kecil dan manusia dewasa ketika hujan datang. Anak kecil akan berteriak bahagia, “Hore! Hujan! Mandi hujan!!!!” Sedangkan manusia dewasa, “Hujan! Banjir! Macet!”
Kita sering lupa bahwa ketika hujan turun, pohon-pohon dan tumbuhan-tumbuhan bersorak ria menerima berkah Agung dari Sang Penurun Hujan.

4. Dony - February 19, 2009

2. cinug – February 17, 2009

Sudut mata lain yang mana ya?
Mata berbentuk elips dg rumus (x/a)^2 + (y/b)^2 = 1.
Di koordinat manakah sudut yang mau dipakai..?

Aku mengamati kalau hidup seperti fraktal.
Fraktal adalah suatu bentuk yang berulang-ulang ke dalam dan keluar.
Seperti itulah hidup, ada pesan yang sama terulang-ulang tersampaikan dalam setiap moment entah itu mikroskopik atau makroskopik

keren kayaknya calon einstein indonesia nih
terus knapa gak pake teori keos ajah daripada fraktal (keduanya acakacakan tapi teratur dan indah) menurut saya lebih indah dari keteraturan misalnya kepakan sayap kupu-kupu di brazil bisa menyebabkan tornado di amerika

kayaknya ini masalah sosial brow dan masalah hati sehingga variabelnya undefined
walaupun secara teori semuanya bisa ditulis secara matematis namun urusan hati tidak bisa

tapi keyen bgt komentnya aq tertarik malah ama komennya daripada artikelnya

namun yang pasti coba lihat previous article bu dosen sepertinya very contrary anak-anak di sono(gaza) tidak bisa menikmati keceriaan.

so kesimpulannya kita harus melihat dari semua sudut pandang

5. Mike - March 1, 2009

Just passing by.Btw, your website have great content!

_________________________________
Making Money $150 An Hour

6. Celine - March 6, 2009

@ A, trims utk mata bening-nya… :)

@ B…? hehe :D

@ Cinug, pertanyaanmu berkaitan dengan kalimat ambigu;
bukan sudut -yang lain- dari mata
tapi sudut dari -mata yang lain-
Sepakat kan? :)
Mungkin -mata yang lain- ini yang diceritakan oleh rekan A.
Sayangnya -mata yang lain- ini seringkali tak bisa melihat ‘pesan asli’ yang serba tersamarkan dalam kehidupan yang nug bilang fraktal tersebut…

@ D, ni kakak lagi ikutan main alfabet ya? dunk dunk :D
Happiness in inward, and not outward
So,
‘it’ doesn’t depend on what we have, but on what we are…
Seperti yg kak’Dim bilang,
tidak menunggu, tapi mencipta,
dan ini ‘given’ kan ya…

@ Dony, ku bingung baca komen-mu.
sangat polygon dan tak beraturan :D
ttg anak2 Gaza…include di pesan utk kak’Dim,
kebahagiaan pun tak ditentukan dari posisimu saat ini,
kebahagiaan sejati itu berasal dari dalam diri…

7. oRiDo™ - April 16, 2009

keceriaan di tengah kemacetan…
sungguh membuat teduh hati…
:)

8. subkhan - April 20, 2009

wah yang hebat itu,yang bisa melihat dari sisi lain dimana itu kenikmatan dan keindahan dapat dinikmati, selamat celine anda lulus melewati satu ujian.