jump to navigation

eh… November 27, 2008

Posted by Celine in my life.
trackback

Dua pekan terakhir ini kerjaanku di lab mengharuskanku datang subuh dan pulang malam. Ke-Lab-ing. Pergi dan pulang di hari gelap, hehe…kayak kelelawar. Pokoknya hindari nginep di kampus deh :D

Sore itu, kupulang menggunakan angkutan umum… [Jam tanganku menunjukan waktu pukul 19.30, lebih 'siang' sekitar 2 jam dari hari-hari sebelumnya yang mengharuskanku dijemput orang rumah]

Lelahku benar-benar membuatku diam dalam angkot. Sms-sms yang masuk [dan tak sempat kubuka seharian ini] kubaca sekilas, lalu masuk tas lagi. Ku sedang ingin jadi pendiam [pastinya sulit dibayangkan...hehe...]

Tiba-tiba di perempatan pasteur, naiklah 2 orang wanita berusia sekitar 30-an. Rapi dan harum dengan Cardigan-nya. Rupanya karena terlalu malam mereka tak menemukan taksi. Karena mereka duduk tepat di hadapanku, maka tanpa maksud menguping pun, pembicaraan mereka masuk semua ke kuping. Cuma tidak ‘masuk telinga kiri keluar telinga kanan’ karena jujur saja… pembicaraan mereka menarik [ups..]

- “…menyenangkan juga bicara tentang cuti jadwal kerja seperti tadi terkait kenyataan bahwa kita perempuan…”

+ “jadi bagaimana? kapan rencananya dirimu punya anak…?”

- “yaa… ku tidak akan menunda-nunda kapan ku punya anak. Kita kan sama-sama orang kesehatan, tentunya paham dong dengan resiko semua penundaan. Jadi, rencananya ku punya anak pada saatnya kapanpun itu, hehe…”

+ “wah, lantas bagaimana dengan pekerjaanmu? kau seorang wanita terbaik yang kami miliki. posisimu sudah sedemikian nyaman dan strategis. ini kan hasil perjuanganmu mulai dari titik nol, mbak manager…!”

- “iye…ketika waktunya melahirkan, aku akan ambil cuti… hanya cuti 2 minggu s.d sebulan koq”

+ “eh, cuti hamil-nya?”

- “aku akan berusaha tetap ON di kantor s.d waktunya melahirkan tiba. Ngidam semasa hamil kan cuma pikiran bawah sadar yang tidak rasional…”

+ “jadi anakmu tidak akan mendapatkan ASI…? siapa yang akan merawat anakmu? suamimu kan memintamu tuk diam di rumah? lagian ibumu kan sudah tidak ada… So, I think…you must ‘fly’ and finish your job when you got a new-baby”

- “hoo… tenang. anakku tidak akan kekurangan ASI. I’ll save and keep it freshly. Lalu ku akan cari pengasuh untuk anakku, dari kampung ibuku di sana. baby-sitter mahal… Tapi ku rela separuh gaji-ku tuk bayar pengasuh, asalkan ku tetap bekerja seperti saat ini. anakku adalah nomer 1. segala penjelasan suamiku adalah logis dan masuk akal. tapi cuma diam di rumah, menengadahkan tangan 100% padanya??? hoo..it’s not my style…”

+ “i c…”

Jujur saja, pembicaraan yang [sangat] menarik. Sudut pandang lain dari apa yang kuyakini saat ini. Humm… sosok wanita tangguh versiku adalah ibuku. Dalam kapasitasnya sebagai ibu rumah tangga, beliaulah ‘jangkar’ utama tempat pikiran pertama sang anak tertambat. Beliaulah wadah pertama yang menerima semua warna-warni limpahan sikap sang anak. Beliau juga cahaya yang dalam keadaan jauhnya pun, suaranya menenangkanku. Senyumnya membahagiakanku. Bahkan foto-nya pun menegarkanku. Tidak ada ‘cuma diam’ dalam posisinya. Beliau senantiasa bergerak dalam lintasan orbitnya.

Meski my big brother sempat bertanya, “…dalam semua ke-hectic-an aktivitasmu saat ini, ga terbayang bagaimana ketika tiba-tiba seorang kamu harus diam di rumah”. Saat itu ku bantah habis-habisan. Justru semua hal yang kulakukan saat itu dalam rangka ‘mumpung masih sendiri’. Profile ideal yang terbayang olehku saat itu yaa.. ibuku.

Menurutku, wanita pun seperti halnya laki-laki butuh sarana aktualisasi diri. Apakah bekerja, membaca, menulis, atau apa. Open mind. Mungkin seiring berjalannya waktu, sejalan perubahan zaman, di benakku ada paradigma baru yang terbentuk. Entahlah.

Kita lihat saja. toh pada akhirnya harapan kita cuma satu. Berjalan selaras dengan kehendak-NYA.

:)

Comments»

1. omiyan - November 27, 2008

Ada satu email yang pernah saya dapet dari temen….ini terinspirasi pas saya baca…

“hoo… tenang. anakku tidak akan kekurangan ASI. I’ll save and keep it freshly. Lalu ku akan cari pengasuh untuk anakku, dari kampung ibuku di sana. baby-sitter mahal… Tapi ku rela separuh gaji-ku tuk bayar pengasuh, asalkan ku tetap bekerja seperti saat ini. anakku adalah nomer 1. segala penjelasan suamiku adalah logis dan masuk akal. tapi cuma diam di rumah, menengadahkan tangan 100% padanya??? hoo..it’s not my style…”…

bahwa sesungguhnya kebahagiaan seorang anak adalah ketika bercengkerama dengan ortunya, ketika dikondisi mempercayakan kepada anak sesungguhnya kita telah menuai benih sikap seorang anak yang manja dan haus kasih sayang ortunya…singkat (email tsb) cerita seorang ibu menyesali atas bentakan dirinya kepada anaknya yang merengek pengen berdua dengan ortunya…ternyata rengekan itu adalah rengekan terakhir kalinya karena anak ingin ortunya barang sehari menemani dirinya…ujungnya penyesalan tiada tara tatkala anak itu meninggal……intinya jangan mempercayakan anak kita terhadap pembantu karena sesungguhnya kita sedang membuat cermin dimasa tua kita…
tulisan lain

*****
iya, sepakat… trims buat share pengalamannya as ortu, omiyan :)

2. subkhan - November 28, 2008

celine, ceritamu seru banget.
aku pernah dapat cerita mail dari maillist. ada seorang anak yang rela nunggu orangtuanya hingga tengah malam hanya untuk minta di temenin main monopoli. tapi apa yang di dapatnya hanya bentakan dan marahan dari orang tua kenapa dia belum tidur. wah kasihan banget.
thx’
wassalam

*****

Salam, pak subkhan..! :)
makasih buat pajangannya (eh, Tera protes namanya ga disebut :D ..)
kembali ke surabaya, langsung maen monopoli sama anak ya? ck ck ck….
Luar biasa deh!
[oya, tera bilang mau jalan-jalan ke surabaya, minta d simpan, haha]

3. Aini - November 28, 2008

Wah…sayangnya aku cewe kolot. Lebih pengen jadi ibu rumah tangga. Makanya cari kerja yang freelance gini. Tapi, kok…..Sampe sekarang belum nikah juga, ya? Padahal udah siap ngurus anak di rumah :( Dunia ini aneh.

*****

Semangat, mba!
hehe…dunia ini ga aneh ko. Cuma penuh warna ;)

4. cinug - November 29, 2008

Peran ibu memang sangatlah penting dalam perkembangan anaknya. Ibu yg mempunyai banyak waktu untuk anaknya biasanya bisa mencetak anak-anak yang baik. Maka beruntunglah yang mempunyai ibu yang punya banyak waktu menemanimu.
Tidak semua ibu yang bekerja karena egonya, ada juga yang bekerja karena kondisi perekonomian keluarga sangat memprihatinkan, penghasilan suaminya seorang diri kurang mencukupi. Alasannya bekerja adalah untuk kebutuhan yang lebih mendasar lagi, yaitu makan.
Yang pertama kali muncul di benakku ketika membaca cerita wanita itu adalah bukan kesalahan atau ketidaktepatan sikapnya ketika mempunyai anak. Wanita itu bisa jadi dikendalikan oleh ke’aku’annya (yg merupakan salah satu dari tentara hawa nafsu). Cerita itu lebih tepat berpelaku seperti cermin bagiku untuk melihatku juga bahwa aku juga tidak begitu beda dengannya, tengah berperang (dan seringkali kalah) melawan hawa nafsuku juga walaupun bentuknya bisa berbeda.
Kita semua berperang dengan diri kita sendiri.
Kita semua adalah pejalan.
Dalam perjalanan itu, ada banyak rintangan, halangan, tantangan (kaya kera sakti aja :p )

*****

yep yep… pun begitu yang ku sebutkan tadi, itu bukan kesalahan ko, itu paradigma lain saja…

5. acilo - December 4, 2008

Celine diam di angkot?

*tertegun pada kalimat,”Celine pendiam” :p

*****

huaa..! acil tega.. hiks hiks :(

btw, look @ tulisan lain ttg diam;

makasih ya, pak! :)

6. estisadiyah - December 4, 2008

hahahaha..
(ketawa baca koment acil :D )

tapi akhir 2 ini celine emang jadi pendiem..”sunyi”

*****

Nyambung ke komen-nya teh’esti dan acil,

Seorang sahabat pernah bercerita bahwa terkadang dalam hidupnya seseorang merasa hidupnya penuh dengan ‘up’ and ‘down’. Then… demi kesintasan alias ’survival of the fittest’ dari si jiwa, maka pada akhirnya dia harus membuang ‘up’ and ‘down’ itu, dan memilih untuk berada di tengah, yaitu ‘hening’.

Hmm…sayangnya ku belum bisa lakukan itu. Mari berjuang tuk ‘diam’. Ketika warna lingkungan tak [langsung dan serta merta] mempengaruhi warna hati. Stabil :)

7. c'est Syndi - December 9, 2008

hm.. jadi teringat perjalanan ke nikahannya k’ranny di sukabumi.. di mobil itu ada k’edli,k’arif setiawan,k’alin,aku,k’celine dan k’dimas. Kita ngobrol banyak hal tapi seingatku yang paling seru ya adalah masa depan khususnya pernikahan,dan keluarga. Aku ingat, k’aline,aku dan celine melontarkan kalimat yang sama tentang ibu kami masing2….padahal kondisi ibu kita beda lho…
nah,celine sayang,masih inget nda kalimatnya apa?
hihihihih…

*****

of course… ku masih ingat,
my mum is the best! [kata masing-masing kita :D ]

8. ridwan - December 17, 2008

Teh Celine…
Akhirnya nemu juga blog dirimu…

In my opinion…
Setiap detik yang dilewatkan seorang bayi bersama ibunya, akan menjadi saat-saat paling indah untuk ibu itu…

So, kenapa harus baby sitter?
Uang, karier, dan mengaktualisasikan diri memang jadi kebutuhan manusia…
Tapi kita gak pernah tahu kapan kebahagiaan yang sesungguhnya kita peroleh, waktu-waktu yang penuh kebahagiaan itu menurut saya…. “kumulatif”. Rasanya sayang kalau kita kehilangan waktu yang harusnya bisa kita kumpulkan untuk kebahagian yang utuh…

Dan rasanya gak rugi kok untuk cuti panjaaang banget… saat kita bisa ngumpulin kebahagiaan yang belum tentu sama rasanya saat kita kumpulkan sambil ber”sibuk” ria dengan proses aktualisasi diri…

Humm, aneh ya…. saya nulis gini, padahal saya gak bisa juga ngejalanin hidup kek gitu…hihihi…

Alah, ngaco ya…

Btw, teh celine aku ikut ngelink blog mu ya…
hehe thanx… and gutlack!

9. pu... - December 25, 2008

assalamu’alaikum..
hmmm…
pekerjaan yang udah jadi rutinitas emang kyanya susah ditinggalin (padahal belum pernah kerja *ceritanya aku lg sok tau)
tp klo udah punya anak, tentu anak jd keutamaan diatas kerja… (padahal belum punya anak, *nikah aja belom gtuu)
hha…

just a comment….

10. uwie - January 3, 2009

Hehehehe …

Gw setuju banget …
eventhough gw kerja ga jelas pagi siang malam nya sekarang … tapi bagi gw yang namanya ibu harus bersama si anaknya …
Yang membentuk anak and mendidik anaknya …

Agak2 ngeri juga neh kadang2 melihat and mendengar rekan2 yang memilih karirnya daripada bersama anaknya … and menyerahkan pada pembantunya …

tapi yang paling penting … kapan neh lo merit? wkwkwkwk …

Uwie

11. ilma - January 12, 2009

hehehe… Assalamu’alaikum celine..

ibu yang punya bayi bekerja menurut ilma sih ga apa-apa selama bayinya tetep no.1..
ilma sendiri, punya bayi sambil kuliah.. kuliahnya ya setelah beres ASI eksklusif. Memang ga akan pernah tergantikan lah masa2 ASI eksklusif itu… dari segi fisik, mental, dan spiritual..
Berpisah sejenak dengan bayi untuk melakukan kegiatan lain yang bersifat positif itu memang berat, tapi ada baiknya juga buat ibu dan bayi, selama bayi ada di tangan yang tepat (bisa dipercaya).

Bagi ilma, ilma sadar bahwa kepribadian ilma sndiri tidak terlalu baik untuk terus bersama bayi ilma selama 24 jam 7 hari seminggu. ilma punya masalah yang ilma khawatir bisa mengganggu bayi ilma, jadi lebih baik ilma nyingkir dan mencari kesibukan lain yang positif. Selama ilma ga bareng Nada, Nada dititipkan ke Daycare bereputasi baik (ada guru, psikolog, babysitter, metode2 tumbuh kembang anak, menu makanan yang sehat, dll), atau ke neneknya (kalo lagi ga sibuk). Kalo lagi musim ujian ato penelitiannya makan waktu, di rumah ada pengasuh juga. Biaya total pengasuhan Nada memang besar, ilma sendiri juga jadi sering kelaperan (hehe) tapi rasanya ini upaya optimal ilma yang serba terbatas sebagai ibu yang pengen melindungi anak ilma.

Parameter apa yang ilma pake buat mastiin Nada baik2 aja?
1. Nada paling apet sama mama papanya. Kalo ada ilma, maunya sama ilma aja tapi ga manja2an. Kalo adanya papanya, Nada juga maunya sama papanya tapi ga manja2an.
2. Nada selalu ceria, murah senyum. Kalo ga senyum2, itu tandanya Nada lagi sakit.. kalo sakit, ya ilmanya bolos walopun harusnya ujian, hehe..kinerja memang kurang baik.
3. Nada udah eh lupa mo nulis apa.. :(
apa lagi ya? oh ya, Nada sukses ASI eksklusif lah… tapi itu kan sebelum ilma mulai keluar rumah..

Yang jelas, pendidikan agama itu tetep mama papanya yang pegang, biasanya ngaji saat Nada mau tidur, ato dengan mengajak Nada sholat berjamaah (Nada sukanya pas lagi sujud!! kitanya ditunggangin!! :D ). Nada juga diperlihatkan ayat2 Al Quran dan dibacakan huruf2 hijayah sejak usia 2 bulan, alhamdulillah Nada suka minta dibacain Al Quran walopun cuma satu dua ayat trus bosen, hehe..

ASI tetep jalan selama ilma bareng Nada (kegiatan ilma kan cuma kuliah-rumah tok), ngek nyong lah.. masalah Nada punya kejang demam kompleks, itu mah genetis.. ato mungkin juga terkait waktu trimester pertama kehamilan ilma suka ngerasa susah nafas ya? ga tau lah… yang pasti, Nada udah punya asuransi kesehatan, alhamdulillah membantu sekali. Di luar masalah itu, Nada termasuk anak yang energik, jarang sakit berkaitan dengan pencernaan/respirasi (yang biasanya langganan bayi2) dan ceria.

Jadi buat celine yang aktif, ilma sih berpendapat ga masalah ibu aktif mah, asal 6 bulan pertama ASI eksklusif dan tetep lanjut sampe usia 2 tahun (biar sempurna menurut Allah kan? hehe).. jadi.. sebelum punya anak, jangan jadi PNS dulu! Cuti melahirkannya cuma 3 bulan!! :D mari kita demo memperjuangkan cuti 6 bulan!!!!! :) ) soalnya biar kata ASI eksklusif bisa tetep jalan dengan ASI perah, tapi banyak juga aspek yang hilang kalo ga ngek nyong langsung dari ibu.

ya udah, jadi kepanjangan :P

12. sindy - January 16, 2009

“laporan pandangan mata”nya menarik! :)
salam kenal!

13. Dony - February 2, 2009

gila banyak waktu bgt untuk ngisi nih blog perasaan me gak ada waktu dan gak ada inspirasi dasar aslinya cerewet bu dosen yang satu ini didunia mayapun cerewet hauerhuaehuaeh seep teruskan blog-mu u’ve 2 google pagerank