gigi… akar… pohon… November 18, 2008
Posted by Celine in my life.trackback
Syahdan, pada suatu pagi, adik bungsu-ku masuk ke pengalaman pertama yang menarik baginya: tanggalnya gigi
Asiik banget dia permainkan si gigi. Mungkin bentuk, warna, dll-nya dari si gigi sangat menarik. Teliti dengan seksama.. puter.. puter.. diputer… then ujung-ujungnya sang adik bertanya;
“Teh,kalo gigi kan ada akarnya. Rambut juga ada akarnya. Umm…Kalo gitu kita, manusia, kayak pohon dong? Semua ada akarnya…”
Saat itu ku jawab sekenanya. Hoho… Yup dek, kita kayak pohon. Yang mati kalo ga dikasih makan. Yang seger kalo dikasi air, buat minum, buat mandi. Tapi kalo pohon makan dan minumnya pake akar. Kita juga kayak pohon yang perlu cahaya matahari supaya bisa tumbuh. Yang bisa berbuah dan berkembang biak… (?)
Potongan kisah dengan si adik itu terlupakan. Sampai dengan beberapa hari lalu, ketika membahas tentang Cahaya (Nur) Iman, Al Iman, dan Taqwa; ku kembali teringatkan penggalan percakapan itu.
Lihat QS. 14:24-26…
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”
تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الأمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
“Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”
وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الأرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ
“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun”.
Ketika Cahaya-Nya ditiupkan pada diri-diri yang dikehendaki, maka Cahaya [dengan ‘C’ besar] itu seolah sinar matahari yang memberikan energinya untuk proses fotosintesis pada sebuah pohon. Pohon Al Iman. Dengan buahnya adalah Taqwa.
Hmm, jadi kalo adikku Tanya lagi, kali ini jawabnya bisa lebih panjang… akar ternyata bukan sekadar ‘tempat lewat’ makanan dan minuman. Pohon ternyata bukan sekadar pohon. Semoga kita bisa kayak pohon ya, dek
Oya, adik-ku ini namanya Aida Istihamah. Panggilannya ‘Ade’ karena punya 9 orang kakak. Artinya musti siap dianggap bungsu seumur hidup
Fotonya diambil ketika dia lagi jalan-jalan ke museum geologi, sekitar taun 2006, dengan gigi depannya yang ompong, hehe…

A funny little sister you have
Akar, pohon dan buah ini pernah dibahas di SS tapi aku lupa ada pada pertemuan yang mana. Aku sisipkan percakapan Bawa Muhaiyaddeen tentang hal ini. Semoga membawa manfaat.
Seorang anak bertanya kepada seorang Sheikh, “Bisakah engkau
mengatakan pada tingkat apa keadaanku saat ini?
Sang Sheikh menjawab, “Sebuah benih harus ditanam pada saat yang tepat. Ketika ia mulai tumbuh, akarnya merambat ke dalam tanah dan mencengkram ke seluruh arah. Segera tanaman tersebut tumbuh menjadi sebuah pohon, dan pohon tersebut tumbuh semakin besar, dan berbuah. Ketika buahnya muncul, mereka tidak memiliki hubungan dengan tanah; walaupun pohonnya terhubung dengan tanah, buahnya memiliki hubungan dengan manusia dan setiap mahluk hidup lainnya.
“Anakku, hidupmu juga seperti itu. Walaupun kau telah tumbuh begitu tinggi, seperti sebuah pohon, hubungan dan keterikatan akal pikiran, prasangka, dan hawa nafs-mu terhubungan kepada bumi dan dunia. Inilah keadaanmu saat ini.
“Bagaimanapun anakku, kau memiliki sebuah hubungan di dalam qolb-mu, di dalam hatimu, yang mencari Tuhan. Akan ku jelaskan kepadamu maksud dari membangun hubungan itu. Ikuti arah ini baik-baik.
“Sebanyak apapun hubungan yang kau miliki kepada dunia, jika kau ingin mencari Tuhan, jika kau ingin berjalan menuju Tuhan, kau, doamu dan ibadahmu harus berada dalam kedaan yang sama seperti pohon: walaupun pohon terhubung kepada tanah, ia memberikan buahnya pada siapapun. Walaupun kau terhunus kepada dunia, seperti sebuah pohon, niatmu harus seperti buah pada pohon: doa, ketaatan, ibadah, sifat-sifat, dan tindakan-tindakanmu harus terhubung kepada Tuhan, dan engkau harus
melakukan perbuatan yang bermanfaat bagi seluruh mahkluk hidup tanpa mementingkan dirimu sendiri. Dan kau akan berjalan dengan baik pada jalan menuju Tuhan.
*****
Luar biasa. Makasih, kak Dimas…
Pohon itu adalah pohon taqwa. Akarnya adalah iman, buahnya adalah hasanah (ilmu, akhlak, amal). Hasanah adalah lawan dari sayyiah, seperti dijelaskan pada QS. Al Furqaan[25]: 70, “Kecuali yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal-shaleh, mereka itulah yang Allah ganti sayyiah-nya dengan hasanah. Dan adalah Allah itu al-Ghafur ar-Rahiim.”
Pohon itu tumbuh dalam qalb. Oleh karena itu, Terdapatnya taqwa pada diri seseorang bukanlah sesuatu yang mudah diidentifikasi secara lahiriah, karena ia terdapat di qalb. Yang tampak dari luar adalah buah dari taqwa tersebut seperti dijelaskan pada hadits qudsi berikut:
“Allah ta’ala mempunyai wadah di bumi–Nya yaitu diberbagai qalbu. Wadah yang paling disukai Allah, yang paling kuat, yang paling bersih dan yang paling lembut.”
Orang bertanya kepada Rasulullah s.a.w.: “Wahai Rasulullah, dimanakah Allah? Di bumi atau di langit? Rasulullah s.a.w. menjawab: “Allah ta’ala bersabda: ‘Tidak termuat Aku oleh bumi-Ku dan lelangit-Ku, dan termuat aku oleh qalb hamba-Ku, yang mu’min, yang lemah-lembut, yang tenang-tenteram.”
*****
Redaksi lengkapnya gitu ya, Nug? yang cq tau… ujungnya adalah….kecuali qalb hambaku yang beriman… Hadis riwayat siapa sih?
A tree is known by its fruit; a man by his deeds. A good deed is never lost; he who sows courtesy reaps friendship, and he who plants kindness gathers love.
– Basil (329-379 A.D.)
*****
Makasih tuk definisinya, kak
but…siapakah Basil?
Alhamdulillah dapat ilmu, wah materi SS muncul disini
, nuhun resumenya.. ^_^
salut, peristiwa dalam kehidupan sehari2 mmg perlu ‘dihubungkan’
mudah2an termasuk Al-Ulil Albab..
(punten baru berkunjung lg:)
masuk ke RSS Feed deh..
*****
???
sami-sami, kak
tapi ku ga paham komen terakhirnya