jump to navigation

Balada orang DeSa dan orang KoTa October 20, 2008

Posted by Celine in reminder.
trackback

Alkisah pada suatu hari, ‘seorang saya’ dengan ‘seorang sahabat’ mengobrol mengenai konsumsi masyarakat kota belakangan hari. Pembicaraan kami berangkat dari film yang tengah marak dibicarakan, Laskar Pelangi. Kami sepakat menilainya sebagai film Indonesia yang bagus. Tidak melulu film-film bertemakan percintaan ataupun horor semisal ‘Menikah dalam Kubur’ yang marak dengan judul-judul yang keliatan kalau isinya…begitu deh :) Hmm… Ku ga punya hak untuk mengumumkan penilaian negatifku ke khalayak ramai disini. Tapi kalo penilaian positif, sebagai bentuk apresiasi, bolehkah? ;)

Tengoklah beberapa karya seperti Kungfu Panda dengan cerita yg padat, funny tapi mengenyangkan, dan kental dengan nuansa pesan ‘tuk belajar mengenali diri… Dark Knight dan Transformer yang juga bagus, meski gayanya lebih menonjolkan sisi maskulin hero alias pembela kebenaran. Lihat juga Nim’s Island, Matrix, The Golden Compas, etc etc…

“Saya kira dunia sedang mengarah ke ‘sana’…”, ujar sahabat saya. “Ke arah mana?”, kejar saya. Jeda beberapa saat sebelum dijawab yakin olehnya, “Spiritualisme…”.

Menarik. Dunia ini sedang mengarah pada satu perbaikan. Kesadaran masyarakat kota menggeliat ke arah pemahaman diri. By the way, film ‘Who am I’ nya Jackie Chan dan Michelle Ferre keluaran taun berapa sih? Mungkin film itu titik awal geliat bangkitnya dunia perfilman, atau jauh sebelumnya tapi saya belum ngeh, hwehehe….

Omong-omong tentang ‘arah spiritualisme’, pembicaraan kami beralih pada suatu kisah. Seorang tua yang biasanya sangat pendiam, salah satu pupuhu di pesantren, tiba-tiba mengungkapkan satu pernyataan yang menghebohkan warga desa tempatnya tinggal di kaki gunung. Beliau berujar,

“…tidak lama lagi akan tiba suatu zaman dimana rumah-rumah penuh corak dan arsitek modern akan berdiri di perkampungan dan di kaki-kaki gunung. Warna daerah pedesaan akan sangat semarak dalam kelelahannya berlomba bermegah-megahan. Sedangkan orang-orang kota akan berlari mencari Tuhan…”.

Pembicaraan yang aga nyeleneh di zamannya. Ketika beliau mengatakan itu, semua orang menertawakannya. “Pembicaraan mustahil. Bagaimana bisa orang-orang desa lebih cinta dunia dari orang kota… kita miskin begini…ada pesantren pula….” Menanggapi respon warganya, beliau tetap diam. Seminggu kemudian, beliau pergi ke mekah dan tidak sempat kembali ke tanah air karena meninggal dunia disana.

Kisah ini aga terlupakan s.d beberapa tahun berselang orang-orang mulai ngeh… buat yang pulang kampung… coba perhatikan saja lebaran kemarin, dibandingkan lebaran 2-3 tahun yang lalu, gedung-gedung, vila, dan rumah-rumah di kaki gunung berdiri dengan luar biasa megahnya. Tidak satu, tapi banyak. Padahal akses ke jalan raya jauh. Terpencil, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota pula. Yep, mungkin ini adalah lambang keberhasilan warga desa yang ‘mencangkul’ di kota. Tapi ‘warna’ dan ‘suasana’-nya? Dung… Beningnya desa-ku mulai memudar. Ketika adzan magrib berkumandang, beberapa anak muda tampak tetap asik bercengkrama di poskamling, sms-an atau membicarakan otomotif dan gosip artis. Meski masih ada juga golongan muda lain yang bergegas mengaji. Lalu ketika anak-anak kota sedang kenali software belajar mengenali huruf arab, anak-anak desa mulai terbius dengan hawa sinetron TV…

Ketika orang mengatakan bahwa ini imbas dari acara-acara di televisi, maka di kawasan pedesaan-lah transformasi gaya lebih terasa. Cepat. Akselerasi-nya luar biasa. Warga desa yang relatif naif dan polos-innocent ini dicekoki dengan berbagai hal yang dikemas ‘menarik’. Byurrr…. Tanpa filter. Akibatnya semua tumpah ruah ke pedesaan. Kecuali pada segelintir orang. Catatan penting, yang saya paparkan tuh kondisi ekstrem lho…

Pertanyaan selanjutnya, fenomena ini perlambang apa ya? Ok, sebaiknya kita tidak cepat menilai apa-apa yang tidak haq untuk menjadi ‘ladang penilaian’ kita. Namun ketika hal ini diproyeksikan ke dalam diri, apakah maksudnya?

Jika dilihat dari fase hidup secara keseluruhan, kemungkinan ketika sebagian besar orang kota merasa sudah mendapatkan segalanya, ia tetap hampa, maka ia pun berjalan mencari Tuhan-nya. Bahkan belakangan di negara-negara maju, perusahaan-perusahaan tidak lagi mengundang ahli-ahli motivator. Mereka mengundang para biksu, untuk memberikan ceramah tentang hidup kepada para eksekutif-eksekutif. Rupanya jalan spiritual juga sudah menjadi trend-style.

Sedangkan bagi orang desa yang pada awalnya rata-rata hidup miskin, mereka masih mengira bahwa kebahagiaan terletak pada harta. Meski, jangan lupa………. Masih banyak juga di desa orang-orang yang shalih.

Yep yep… kita harus terlebih dahulu mengecek sampel-nya dan membuat kesimpulan yang tepat. Manusia tuh lemah. Dengan mudahnya ia bisa berpindah dari karakter desa ke karakter kota, demikian pula sebaliknya. Hanya dengan Penjagaan-Nya lah manusia bisa bertahan, baik manusia desa maupun manusia kota.

Lantas, sahabat saya ini menceritakan tentang suatu konsep ‘the tree that fell to the west’, salah satu konsep dari syeikh Muh. Raheem Bawa Muhaiyyaddeen.

“…Pohon kebijaksanaan tumbuh di timur. Batangnya juga besar di timur. Tapi semakin hari ia pun semakin membesar, pohon tersebut sampai menaungi bagian barat, berbuah, dan buahnya jatuh di barat. Pohon kebijaksanaan tumbuh di timur, batangnya besar di timur, buahnya jatuh di barat”

:-?

Meski aga sedikit menyedihkan dari kacamata kita sebagai bangsa timur, kalo diliat dari cara kerjanya, bangsa barat tumbuh berkembang dengan dasar-dasar pemikiran timur. Rasul juga pernah bersabda bahwa salah satu ciri hari akhir adalah matahari yang terbit di barat. ‘Matahari’ sebagai simbol penerang. Saat ini, jujur saja…bangsa barat lebih banyak yang kehausan akan penggalian ilmu daripada bangsa timur. Jujur juga…bangsa barat lebih ‘kota’ daripada bangsa timur yang masih ndeso. Kitalah orang desa itu.

Hoho… tapi semua ini jangan ditelan bulat-bulat. Ini hanya sedikit pembicaraan kami. Pada akhirnya, manusia itu punya kemampuan luar biasa dengan logikanya untuk mengadakan pembenaran-pembenaran yang ‘mendukung’ pemikirannya. Dengan akal, semua hal bisa dibolak balik menjadi (tampak) benar. Selama akal masih menjadi raja, hati susah sekali tuk ber-orasi sampaikan pendapatnya. Cuma mereka golongan ‘al Muhtadun’ – yang hatinya bening sehingga bisa menangkap pesan Cahaya-Nya lah, yang mampu menerima kebenaran sejati.

Wallahu’alam bish shawab.

ps. “…berharap ku akan Cahaya-Nya…”

Comments»

1. cinug - October 20, 2008

Entah itu di desa ataupun di kota, ilmu dan berpikir adalah hal yang penting perjalanan manusia.
Orang desa memang kebanyakan terproteksi secara turun-temurun, namun ketika proteksi itu terbuka dg adanya kemajuan teknologi komunikasi, byk yg masih rapuh, blm terlatih menghadapi serangan-serangan. Orang kota sebenarnya sudah jatuh bangun duluan terhadap segala serangan2. Bisa dikatakan sudah mencuri start.
Film2 yg bagus sementara kebanyakan dari barat entah itu serial TV ataukah movie. Memang, sangat sarat dengan pesan2 universal dari pelajaran hidup. Namun, tetep aja kita juga harus bisa memfilter karena ada juga yg masih tercampur dg hal2 yg jelek. Namanya juga proses.

*****

Yup! Proses… Rapuh…
Intinya Filtering kan Nug?
Tapi tentang ‘rapuh’nya, saya ga sepakat! :)
Hmm…

2. dimoet - October 20, 2008

menurut saya,
g peduli orang desa atau orang kota, filter utamanya dari pendidikannya, bermula dari keluarga, dan akhlaknya. Apabila sejak dini dia sudah dikenalkan pada ALLAH, dan keluarganya tetap membuat nya berada di lingkungan yg baik, insya ALLAH, akhlaknya pun akan baik, apa pun kondisinya, mau seperti apa pun kemajuan teknologi yg diterimanya.
saya yakin yg berilmu dan baik akhlaknya akan menyikapi dengan bijak, begitu pun terhadap lingkungannya.
dan kembali pada kita sendiri, kita mau gmn?mau cuek aja?atau mau sedikit atau banyak ikut campur dalam perubahan.

semoga bkn hanya omdo
hanya DIA yg mengetahui

*****

Betul banget kak Dimas! :)
Basic keluarga..of course…disanalah pondasi pertama ‘bentukan’ alam sebab-akibat.
Tapi disini memang bukan orang kota dan orang desa yang jadi think-nya.
Melainkan lebih pada kondisi, naif atau tidak…
atau dengan bahasa Nugi [komen sebelumnya], terproteksi atau tidak..
Dengan pengetahuan, orang lebih mudah untuk mengenali dan kemudian menghindarinya.

Btw, reunian tgl 18 kemaren ko ga dateng?
Kapan nih ‘mbak’nya dikenalin sama kakak2 gedung kayu d Bandung?
Hehe, diantos beritanya… termasuk berita juniornya, tar masukin PAS ga? ;)

3. Farrel - October 21, 2008

ehm… capek juga bacanya,,,!

*****

Maafkan jika bikin capek, tidak bermaksud.
Tapi tak apa, merasa cape artinya masih bisa ‘merasakan’, hwehehe.
Lebih cape mengamalkan, tepatnya… :)

4. Aini - October 24, 2008

Menjelaskan banyak hal,Cel.udah lama terasa tapi masih belum bisa memaparkan.kirain cuma aku aja yang ngerasain :)
yah..batal,deh rencana punya rumah di desa.hehe.. :p
Tapi mungkin itu siklus juga,ya..ngerti ga,ya?

*****

Rencana teteh untuk punya rumah di desa, menghirup udara desa, bertanam di desa, dan melahirkan kembang-kembang desa [hwehehe...] masih bisa diwujudkan ko, teh ;)
Itukan lebih pada perlambang tentang bahwa ‘berilmu’ dan ‘kurang berilmu’ nya kita akan pengaruhi juga sikap kita.
*Tapi mungkin itu siklus juga,ya..ngerti ga,ya? –> Ga ngerti, teh… :-?