jump to navigation

Laskar Pelangi October 13, 2008

Posted by Celine in my life.
trackback

Lebaran, kami sekeluarga berkumpul. Lengkap. Kalau sudah besar, susah sekali mengumpulkan anak-anak catur ini. Raja. Ratu. Patih. Benteng. Kuda. Pion. Semua bergerak di ladang masing-masing, hwehehe.. Sehari setelah lebaran, kami – yang mengaku sebagai penghuni bandung – tiba-tiba saja kepingin nonton bareng. Laskar Pelangi.

Film yang luar biasa. Atau tepatnya, kisah yang luar biasa. Berkisah tentang seorang Ikal si anak Belitong. Meski filmnya berbeda dengan versi bukunya, tapi itulah bahasa film.

Hehe, ko jadi ada tokoh pa guru Tora Sudiro? Bumbu buat bikin film menarik :D

Ko pa Harfan-nya meninggal dunia? Untuk bikin jalan film lebih kerasa, berliku. Penonton dibuat mengharu biru.

Ko dikisahkan tentang putrinya Lintang yang cerdas? Untuk menggambarkan tentang ‘keberlanjutan’ tongkat estafet dari sang ayah. Tak apalah sedikit menghibur pemirsa.

Tapi yang paling ‘menyesakkan’ adalah kisah asli-nya itu sendiri. Anak-anak yang luar biasa. Mahar yang seniman. Lintang yang cerdas luar biasa, menghentikan kecintaannya pada dunia belajar setelah ayahnya hilang di lautan. Huaa… sampai dengan titik ini kutengok kanan dan kiriku. Ternyata aku tak menangis sendiri [hiks hiks hiks, jadi aku nangis bukan karena cengeng lho, minimal kalo iya pun yaaa.. cengeng se-bioskop,hwehehe].

Akui saja, meski berbeda dengan versi aslinya, tapi sutradara Riza berhasil mengaduk-aduk emosi pemirsa. Satu hal yang lebih penting dari orisinalitas kisah ‘Laskar Pelangi’ ini adalah… pesannya sampai. Kalau boleh coba klasifikasikan, film ini tergolong film spiritual. Tanpa simbol-simbol yang menjebak. Tanpa dominansi satu golongan pembawa pesan. Pesan dari film ini adalah kebenaran universal. Umm… Mirip-mirip dengan Kungfu Panda.

Bravo Andrea Hirata!

Bravo Riri Riza!

Tugas kita selanjutnya, meneruskan semangat yang tercermin dari kisah ini.

SemangaT! ^_^

Comments»

1. Adang Hidayat - October 13, 2008

Mari menyusun seroja bunga seroja
Hiasan sanggul remaja putri remaja
Rupa yang elok dimanja jangan dimanja

Pujalah ia oh saja sekedar saja
Mengapa kau bermenung oh adik berhati bingung
Mengapa kau bermenung oh adik berhati bingung

Janganlah engkau percaya dengan asmara
Janganlah engkau percaya dengan asmara

Sekarang bukan bermenung zaman bermenung
Sekarang bukan bermenung zaman bermenung

Mari bersama oh sayang memetik bulan
Mari bersama oh sayang memetik bulan
Mari menyusun seroja bunga seroja

Hiasan sanggul remaja putri remaja
Rupa yang elok dimanja jangan dimanja
Pujalah ia oh saja sekedar saja

*****

Waah..kak adang hafal lagunya..
:-o

Lagu favorit masa kecil ya, kak? :D

2. cinug - October 14, 2008

Masyarakat udah bosan dengan film2 hantu dan cinta. Udah sering banget. Jadi ketika ada film Indonesia yang bagus, jadi rame dan untungnya gede.
Keuntungan yang gede ini seharusnya bisa menjadi pendorong para pembuat film Indonesia untuk lebih “mikir” dalam membuat film yang bermutu.
Ayo para insan film di Indonesia, berlombalah dalam membuat film yang bermutu :-)

*****

Kalo gitu… Buatlah film bertemakan ‘Hantu Jatuh Cinta’, hwehehe….

Yep, tapi setuju dengan pendapat pak’Nugie. Buatlah film bermutu, apalagi buat orang-orang yang gandrung film sepertimu :D

3. tren di bandung - October 16, 2008

laskar pelangi emang film yang beda abis. disana ada suasana nasionalis. disana ada keseimbangan yang harmonis. ada keindahan alam yang masih manis. bisa ngumpul dan bersenang2 sama keluarga atau teman walau kantong tipis.
indonesia memang membutuhkan filan yang mengangkat optimistis. bukan hanya disuguhin mistis. dan tayangan2 yang tidak realistis.
walau amerika kena krisis. kita tetap mesti bermimpi fantastis. sampai saya bikin artikel walau bukan analis. silakan dikunungi dan kasih komentar, plis…

http://trendibandung.wordpress.com/2008/10/16/this-is-the-american-crisis-untuk-indonesia-menangis/

*****

baiklah kukunjungi :D

4. acilo - October 17, 2008

belum nonton.. huhuhuhu..
lin traktir dong hehehe..
makasih dah dipinjemin laptopnya :p

*****

Sama-sama, makasih juga lampu merah-nya
….. sangat membantu TA-ku, sampe terbakar semua plat film-ku
Yeee…Proteinnya ga keliatan apa-apa, hehe ^_^
Traktir? Ko biSa..?

5. Ramadhani Putri Ayu - October 19, 2008

yeah!
laskar pelangi T O P dah!
^-^
gara2 n0nt0n laspel, smangat blajar jd membara!
haghaghag.. (semangat m0de on)

*****

SemangaT, dhek!

6. rifky - October 20, 2008

mang bagus temanya…pesan moralnya juga banyak banget…seharusnya film2 kaya gini yg d perbanyak…

ada bbrp yg pgn sy kritik juga…
sy mengkritik bkn krn ga suka tp sayang film dgn tema sebagus ini terlihat hambar ato kurang kuat karakter pemeran2nya.
ini yg sampe skrg ga bs d dhilangkan oleh para sutradara2 film indonesia jaman skrg….malah sy ngerasa…film2 jaman dulu kaya:
-Arini (Masih Ada Kereta yang Akan Lewat)1987, sutranya Sophan Sophiaan
-Gita Cinta dari SMA 1979, yg maen rano karno , sutranya Arizal.
-Badai Pasti Berlalu 1977, yg ini jgn d tanya, karya Teguh Karya mang jaminan.
-Cintaku di Kampus Biru () 1976, nyang maen bang Roy martin, sutranya Ami Prijono.
dll….

itu pendapat awa…. bwt yg ga setuju harap d mengerti ini negara demokrasi … beda pendapat kan sah2 aja…

*****

Sah-sah aja sih, Ky..
Btw, gaya tulisanmu ko ku ga kenal ya?

7. dimas - November 3, 2008

LASKAR PELANGI

Mungkin judul itu pun tepat untuk menggambarkan berbagai kepintaran beraneka ragam yang terpada pada anak-anak Laskar Pelangi. Tiga jam sebelum menulis komentar ini, aku baru saja membahas laskar pelangi dengan seorang psikolog yang sangat concern terhadap edukasi di Indonesia dan beliau juga sangat care dengan pola pendidikan anak yang baik dan benar. Menurut beliau sangat banyak paradigma pendidikan yang salah akibat kebodohan dan kemalasan kita untuk belajar, dan ini juga terkait dengan ego diri manusia (merasa pintar sehingga tidak perlu lagi belajar).

Laskar Pelangi mengajari kita banyak hal khususnya terkait dengan dunia pendidikan. Saya sangat salut dengan Ibu Muslimah yang penuh dedikasi dan memiliki semangat yang teguh. Dedikasi dan keteguhan inilah yang tertular ke murid-murid beliau. Bu Muslimah tidak putus asa ketika melihat muridnya hanya terdiri dari 10 orang. Beliau juga tidak putus asa ketika melihat salah satu muridnya adalah anak terbelakang (Harun).

Kita sudah melihat bagaimana tiap murid memiliki kepandaian yang berbeda-beda. Ikal dengan sastranya, Lintang dengan aritmatikanya dan Mahar dengan keseniannya. Bu Muslimah benar-benar memfasilitasi setiap bakat-bakat muridnya, dan terbukti setiap murid berkembang dengan bakatnya masing-masing. Sangat berbeda di sekolah yang kita ketahui pada umumnya, dimana semua murid diarahkan untuk pintar dalam hal berhitung dan menghapal. Ini adalah kesalahan besar. Tugas sekolah seharusnya adalah untuk mengasah kemampuan-kemampuan alami yang telah dimiliki si anak sejak lahir.

Menurut aku paradigma “Bersekolah” sudah jauh melencang dari tujuan mulianya. Sekarang kita pergi ke sekolah adalah untuk menghapal dan mengejar rangking satu. Bukan untuk belajar bagaimana untuk belajar yang benar sehingga memudahkan kita dalam menggapai ilmu. Bahkan kita sendiri mungkin tidak tahu apa itu definisi dari “Belajar” yang sesungguhnya.

Back to Bu Muslimah, saya sangat kagum walaupun Harun terbelakang, tapi bu Muslimah tetap mendampingi beliau. Beliau tidak membeda-bedakan muridnya. Bu Muslimah tetap membimbing beliau sesuai dengan kapasitas pengajaran yang bisa ia mengerti. Bu Muslimah benar-benar guru sejati!

Tak lupa Pak Harfan (Kepala Sekolah) yang selalu meneguhkan semangat murid-muridnya untuk “memberikan sebanyak-banyaknya!” Sungguh sebuah pesan spiritual agung dari “Rahmatan Lil Alamin” Rahmat bagi Alam Semesta. Orang Bijak mengatakan manusia sejati adalah seperti pohon yang telah “matang”. Buahnya, dedaunannya, batangnya, dahannya, semuanya bermanfaat bagi mahluk disekitarnya. Sungguh sebuah pencapaian yang agung.

Dan komen terakhir adalah, masih ada ribuan sekolah yang bahkan kondisinya lebih parah dari sekolah yang ada di laskar pelangi. Itu adalah kenyataan di negeri kita. Semoga dengan adanya film itu, kita menjadi tergerak untuk ikut serta dalam memajukan dan mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia sekecil apapun bentuknya.

Semoga bermanfaat.