jump to navigation

Cincin Raja dan Nabi Sulaiman July 11, 2008

Posted by Celine in reminder.
trackback

Humm, cerita ini kudapat duluuu banget waktu masih kecil, SD kali ya..? tiba-tiba teringat kembali ketika membaca komentar dari Rasix di tulisan sebelumnya.

Kuceritakan dengan bahasa versi-ku ya… :)

Alkisah, pada suatu saat, Nabi Daud a.s hamba Allah yang diamanahi menjadi Raja membuat suatu sayembara. “Barangsiapa yang membuatkanku sesuatu yang dapat membuat aku menangis ketika tertawa, dan membuat aku tertawa ketika aku menangis, maka aku akan memberikan hadiah, dan bla bla….” [nah, hadiahnya sebesar apa atau berupa apa... cq lupa :p karena buat seorang celine kecil, mendengar 'hadiah dari raja' itu kesannya sudah "wah" dan ga peduli sebesar apa hadiahnya, hehe :D ]

Karena sayembara itu terbuka untuk siapapun, maka berbondong-bondonglah semua masyarakat untuk unjuk gigi di hadapan sang raja [kalo cuma unjuk alias pamer gigi, tampaknya cuma bikin ketawa yang tadinya ketawa, atau bikin tambah 'sepet' orang yang lagi sedih, hehe...]. Dulu cq bayangin, ada pelawak, ada pujangga, ada pemain sirkus [emang zaman nabi Daud ada sirkus? entahlah...]

Semua gagal.

Sampai dengan akhirnya, Nabi Sulaiman a.s, putra sang raja yang saat itu masih berusia kanak-kanak, membisiki salah seorang wazir raja. “Ayah ini bagaimana, hal seperti itu saja dibuat sulit…” Dan dibantu oleh wazir tersebut, Sulaiman kecil pun berhasil memenangkan sayembara itu dan memperoleh hadiah sang raja yang notebene ayahnya sendiri…

Hadiahnya, mau tau apa?

Cincin. Terbuat dari besi biasa, dan bagian luarnya dituliskan kata-kata “Semua ini akan berlalu…”

Lepas dari benar atau tidaknya kisah ini, Nabi Sulaiman a.s memang digambarkan memiliki kecerdasan dan kebijakan luar biasa sejak kecil. Selain itu kisah ini pun [seharusnya] membuatku berpikir ketika bahagia, jangan gembira berlebihan, karena semua ini akan berlalu. Begitupun ketika mendapat kesedihan.

Wallahu’alam bish shawab, sekadar reminder, khususnya bagi cq pribadi.

Salaam… :)

*urutan cerita disesuaikan dengan urutan ingatan ketika cerita itu mengalir dari my lovely dad, hehe, jadi dilarang protes!

Comments»

1. rasix - July 13, 2008

iyah… ternyata ga aku aja kan yang mikir kek gitu .. hehe.

kalo di alqur’an di Al hadid 22-24 kita diingetinnya gini:

“Tiada suatu bencana yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan dia telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi allah”

“Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya untukmu. dan Allah tidak menyukai orang sombong dan membanggakan diri”

“Yaitu orang yang kikir dan menyuruh orang lain berbuat kikir. Barang siapa berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia maha kaya, maha terpuji”

Kalo orang kafir ngingetinnya gini:

And if the night runs over
And if the day won’t last
And if your way should falter
Along this stony pass

It’s just a moment
This time will pass

———
walo terkadang semua itu mengingetkan kita kalo kita lagi susah ditimpa ujian. Tapi buat sebagian orang nikmat berentetan yang ga pernah berujung juga sebuah ujian.

who knows but Him.

2. Celine - July 13, 2008

Wah, saya ga setuju.

Ko pake istilah ‘kafir’…?

Itu kan cuma bahasa inggris.

Aneh…

Krik… Krik…

3. rasix - July 13, 2008

itu lagunya U2.. :|

4. rasix - July 13, 2008

iyah maaf tentang istilah kafirnya.. itu ga bijak

5. addaani2008 - July 14, 2008

ambilah hikmah itu dimanapun juga, walaupun ada di mulut seekor anjing sekalipun…. (kalau gak salah Umar bin Khatab yang mengatakannya)

yakinlah, kita akan kenyang memakan pengetahuan dari semesta itu, yang hakekatnya Allah jua Sang Maha Ilmu yang menurunkannya…

yang gak dibatasi oleh lisan siapa yang mengatakan, madzhab siapa sumbernya..

eh iyah, Ali bin Abi Thalib juga ngingetin kita….
“lihatlah apa yang dikatakannya, bukan siapa yang mengatakannya…!”

6. me - July 14, 2008

wah wah… yang satu bilang kata orang kafir, yang satu bilang dari mulut anjing… artinya? ko tambah tidak sopan dan tidak bijak ya? hehe, tararengkyu buat remindernya!!! :D

7. addaani2008 - July 15, 2008

namanya juga sebuah pendekatan analogi… tentu terkadang tampak terlalu ekstrim…
tapi insya Allah akal kita cukup kuat untuk bisa memahami, bahwa al-Haq itu berada di mana-mana, nilai kebenaran itu bisa kita peroleh di manapun, sepanjang kacamata yang kita pake pun benar dengan pertimbangan syariat jg.. artinya, butuh hati kita yang sunyi dari prasangka untuk bisa menemukan jutaan pengetahuan Ilahi, milyaran kebenaran walapun tampak di mata lahiriyah kita keberadaannya di tempat2 yang tampak mustahil, semisal anjing tadi…
wallahu a’lam…

8. rasix - July 15, 2008

makasih juga diingetin.. hehe
dulu aku sempet berbangga dengan keadaanku seperti ini (islam, tp dengan pemahaman ga seberapa) sampai suatu saat … lupa dimana.. ada ustadz/ah bilang gini.

“kalo di hati kita merasa lebih beruntung dari fir’aun, maka sejatinya ada biji kesombongan dalam jiwa kita.”

entah bagaimana seharusnya aku memaknai omongan ustadz itu. tp yang aku tangkep.. hukum allah yang telah nyata datang ke fir’aun saja (kekal di neraka, dikutuk, dll) tidak dapat membuat kita lebih tinggi dari fir’aun tersebut.

lalu dimana yah seharusnya perasaan bangga itu dibolehkan? di alquran diterangkan allah tidak menyukai orang yang membanggakan diri? ato orang yang terlalu membanggakan diri?

ada nasehat?

9. Celine - July 16, 2008

@ Kang Dani, Yup! Jangan lihat siapa yang mengucapkan, tapi lihatlah apa yang diucapkan. Itu bukan Hadis ya, Kang? [meski sy sepakat dengan isi dari kata-kata itu adalah kebenaran, sy tetap ingin tau siapa yang mengucapkan, boleh kan kang tetap bertanya tentang itu?]

@ Me, sama-sama, makasih juga! Dirimu koq aneh, malah membandingkan kata-kata di komen satu dengan yang lainnya. Untung tak terjadi huru-hara, hehe :)

@ Rasix, Umm..bukan nasehat, sekadar reminder juga, pun untuk diri sendiri.

Ketika kita merasa beruntung, merasa “better than other”, merasa sudah cukup dengan semua yang ada pada diri kita, maka kecenderungannya adalah kita pun akan dengan cepat menilai orang lain.

Catatan; yang kita lakukan pada diri kita sendiri baru sampai tataran ‘merasa’, tapi lantas itu membuat kita seolah-olah sudah mampu ‘menilai’ diri sendiri. Lantas kapan perbaikan diri yang akan kita lakukan? Cukupkah dengan bermodalkan ‘rasa’ yang kita pahami atas diri kita masing-masing?

Maka dari situ… jiwa kita tidak berniat lagi untuk belajar atas diri kita sendiri. Tidak mengenali diri kita sendiri. Tidak berkehendak lagi untuk mempelajari apa-apa yang dibutuhkan oleh sang diri. Padahal kita belum ‘kenal’, kita baru ‘merasa kenal’ atas diri kita.

Jadi, jangan terlalu cepat men-judge orang lain. Mari terlebih dahulu kenali siapa kita ini. Membanggakan diri ataupun terlalu membanggakan diri, saya pikir tidak ada bedanya, isn’t it? ;)

10. acilo - July 17, 2008

jadi terinspirasi mengkoleksi cerita fabel sunda jaman dulu yg ortuku pake buat meninabobokan ku dan k’didi :D
keluargaku punya banyak koleksinya lho..
ada “Sakadang Kuya”,”Sakadang Peucang”,”Carita Raja..” dll..

11. rasix - July 17, 2008

wah ada? gerne!!!

12. ardi - October 9, 2008

Simple story with such a deep lesson…

OOT: Mending ga usah nge-judge dan mengolok2 orang kafir ya, kawan. Apakah kita tidak sadar bahwa cahaya ISLAM yang kita nikmati ini juga bukan kita yang mengusahakannya sendiri??

13. Raja Cilik - November 13, 2008

Bangga pada diri sendiri memiliki 2 buah makna: bangga yang mengarah ke sombong dan bangga yang mengarah ke syukur.

Plihlah yang kedua !

14. HSM - December 27, 2008

makasih buat infonya